PEARL JAM NITE at Planet Hollywood, April 2nd 2008

By Eko

Bulan April adalah bulan yang muram bagi Rock ‘n Roll. Setidaknya bagi penggemar Nirvana. Dan demikianlah, malam itu Che mengenakan kaos coklat bertuliskan “NIRVANA”. Kaos yang melekat erat di tubuhnya yang berkeringat itu mengingatkan kita, atau setidaknya saya, dengan sang living legend him self: Om Eddie. Humble but powerful, indeed.

Seolah ingin semakin menegaskan kemuraman bulannya ibu Kartini ini, Cupumanik kemudian membawakan “Immortality” dengan sangat apik. Jadilah lagu yang semula saya jagokan sebagai penutup kala lampu-lampu telah dipadamkan, dimainkan di awal konser yang membakar ini.

Terus terang saja, dan bukannya terang terus, sesi pertama dari Pearl Jam Nite yang digagas oleh radio Otomotion ini bertepuk sebelah tangan. Bagaimana tidak? Sepuluh lagu yang digeber – mulai “Once” sampai “Porch”, dari “Alone” hingga “Spin The Black Circle” dan “Rats”, dengan “Black” dan “Breath” sebagai puncak performa Cupumanik di sesi ini (menurut saya, lho!) – tidak mendapat respon yang ‘selayaknya’ dari ratusan audiens yang memadati Planet Hollywood. Bukannya kita tidak mau, Che. Bukan juga kita adalah serombongan penikmat musik ‘jaim’ yang gemar melipat tangan di dada sembari mengeluarkan komentar-komentar sinis. Bukan. Bukan itu. Milis ini tidak diisi oleh orang-orang semacam itu. Meja-meja itulah penyebabnya. Meja-meja keparat yang diatasnya bergelimangan botol-botol liquor yang harganya jelas jauh diatas HTM malam itu. Mungkin teman-teman di Planet Hollywood sedemikian jarang menonton clip Evenflow sehingga gagal menangkap kata-kata Om Eddie di bagian awal clip itu: “This is not a TV show, this is a fucking rock concert!”

Tak mengapa. Kebaikan pada akhirnya selalu keluar sebagai pemenang.

Dan sang pahlawan malam itu adalah mas Adi. Kesempatan itu datang dan langsung disambar ketika pasangan MC, yang terlalu banyak bicara NPJ dan OOT lainnya, mengundang mas Adi naik ke atas panggung. Dengan ekspresi Lennon-nya yang innocent namun menggigit, pahlawan kita ini berceletuk: “Menurut saya, ini menurut saya lho, meja-mejanya terlalu dekat dengan panggung. Kurang asik, nih!”

Jadilah! People power akhirnya berhasil menggusur meja-meja itu dan menciptakan ruangan yang lebih intim, setelah sebelumnya diadakan voting yang amat sangat bernuansa demokratis. Hehehe… mungkin Presiden kita yang belakangan sering menangis itu akan menangis lagi kalau melihat kejadian ini. Dan Pearl Jam Nite kali ini diselamatkan dari kegaringan luar biasa yang mengancam sebagai akibat dari keputusan manajemen acara yang kurang berani ambil resiko. Thanks to our love and passion for a good show. We earned this goddamned nite, folks!

Sesi kedua berjalan jauh lebih seru. Cupumanik sih memang sudah seru sejak awal. Dan saya memberi penilaian bintang empat dari lima bintang untuk performa mereka malam itu. Sori Che, lima bintang hanya untuk Pearl Jam yang aseli, huehehehe… Yang saya maksud lebih seru itu, tentu saja, dari sudut pandang penonton. Dari sudut pandang saya. Dari sudut pandang puluhan orang yang pada akhirnya berdiri, berjingkrak, dan bernyanyi di depan panggung, yang kali ini sudah diisi oleh Sang Penghibur: Fadly dari Padi.

Adalah Evenflow dan Given to Fly yang menjadikan Fadly dielu-elukan audiens malam itu. “Ini lagu yang pertama kali mengenalkan gua sama Pearl Jam di tahun ’92. Dan menurut gua lagu ini masih terdengar modern dan akan terus terdengar modern sampai kapanpun,” demikian Fadly membuka Evenflow yang kemudian langsung disambut dengan moshing dan teriakan-teriakan kesurupan dari penonton di bibir panggung. Alhasil, jam tangan saya copot dan bibir saya benjut terkena tendangan tanpa bayangan dari seorang penonton yang keenakan stage diving. Seingat saya Che sempat satu kali stage diving, diusung kesana kemari sebelum akhirnya dikembalikan ke panggung tepat di sisinya Fadly.

Sejauh yang saya ingat, duet Che dan Fadly mencapai puncaknya ketika teriakan mereka disambut hangat oleh seluruh audiens dalam “Eldery Women Behind the Counter in a Small Town”. “HELLOWWW…. !!!”. Tapi, by the way, versinya Fadly untuk lagu yang satu ini kok terdengar seperti “Rapuh”, yak ?

Fadly pulang, Ipang pun datang. Bo’ong ding! Fadly hanya istirahat di samping panggung, memberi ruang kepada Ipang yang kemudian dengan fasih membawakan nomor maut, “Jeremy”. Tak perlu basa-basi, penonton yang usianya memang sudah bukan remaja lagi, dengan energi yang masih tersisa, kembali menyahut dan berjingkrak. Seperti dikomando mereka mengacungkan that one finger ke udara pada bait “… seemed a harmless little fuck!” Dilain kesempatan, Planet Hollywood seperti menjadi Planet Animal ketika serentak Che, Ipang, dan audiens meneriakkan ”Ouwow…. Oh…” pada bagian akhir dari “Jeremy”. Wow, banyak Tarzan, niy!

Duet Che dan Ipang berlanjut di nomor “Daughter”. Olitz dari Alien Sick ikut nimbrung pada gitar. Di nomor inilah Ipang menunjukkan bakat lain yang dimilikinya selain sebagai penyanyi. Mau tahu bakatnya apa? Guru menyanyi! Hahaha, silahkan tertawa kalau menganggap ini konyol. Tapi sungguh, inilah yang terjadi ketika Ipang mengimbuhkan “Another Brick in the Wall” milik Pink Floyd ke bagian akhir dari “Daughter”. Dan Ipang baru tersenyum, entah manis atau kecut, ketika akhirnya para penonton ‘lulus’ meneriakkan bait ini bersama: “Hey, teachers, leave them kids alone!”

Cupumanik, dengan Che sebagai vokalis tunggal kali ini, untuk terakhir kalinya membakar Planet Hollywood dengan nomor sakit, “Why Go”. Entah ada yang sempat menangkap melalui kamera atau tidak, namun menurut saya, ekspresi wajah Che dalam lagu ini benar-benar sakit. Melotot, merem, sedih, marah, dan… gila! Terlebih ketika ia dengan provokatif memaksa semua yang ada di bibir panggung untuk ikut-ikutan meneriakkan: “… she’s been diagnosed by some stupid fuck!” Dan lagi-lagi, that one finger teracung ramai-ramai ke udara malam yang sudah sangat pekat dengan asap rokok.

Di penghujung acara, seolah mengukuhkan tradisi milis PJId, semua penonton yang tadinya berjingkrak mendadak duduk berselonjor kaki. Panggung menjadi hening. Dan penonton yang selama acara duduk manis di meja tentu merasa senang karena kembali dapat melihat Cupumanik dengan jelas. “Ini salah satu lagu Pearl Jam yang sangat emosional (atau mistis? Sori, saya lupa apa pastinya yang diucapkan) buat gua,” demikian Che mengawali nomor “Release” yang diikuti koor penonton sepanjang lagu. Mas Reza, yang saat itu duduk di sebelah saya, tersenyum penuh kemenangan. “Wah, sesuai set list permintaan gua niy. Ditutup dengan lagu ini, hehehe…” Jangan senang dulu, bro !

Pearl Jam Nite malam itu akhirnya benar-benar ditutup dengan “Rearview Mirror” yang dibawakan keroyokan. Che, Fadly, Ipang, Gusti dari Stigmata, Robby dari Navicula yang sebelumnya sempat membawakan “Alive”, dan satu orang lagi yang rambutnya mengingatkan saya akan vokalisnya RATM. Well, saya hanya bisa bilang : “One hell of a show !”. Saya puas. Dan saya yakin semua yang hadir malam itu juga puas. Thanks to Otomotion, Cupumanik, Fadly, Ipang, dan semua orang yang sudah mewujudkan malam yang indah itu. Sampai ketemu lagi di konser Pearl Jam sesungguhnya.

~ by egha1260 on April 8, 2008.

Leave a Reply